Browse By

ARTIKEL di Majalah FEMINA 2009: Tarot , sebuah kebetulan yang berarti

“Mbak,  saya diramal dong tentang jodoh saya” , seperti lagu kebangsaan Indonesia Raya, itu adalah pertanyaan kebangsaan rata-rata klien-klien tarot saya, padahal sumpah demi Alam Raya, saya itu sebenarnya benar-benar terganggu dengan sebutan peramal Tarot. Karena saya sangat amat percaya Tarot itu bukanlah meramal. Saya lebih suka menyebutnya sebagai “ membaca energi orang yang bervibrasi ke Alam  Raya  dan dipetakan kedalam kehidupan seseorang untuk dijadikan jalan mencapai kedamaian hidup”  (halah…susahnya!).

Baiklah, mungkin sudah banyak yang tahu bahwa kartu yang terdiri dari 78 buah yang terbagi menjadi Arkana Utama dan Arkana Minor ini sering sekali di’salahmengerti’ sebagai satu alat peramalan. Hal ini tidak sepenuhnya salah karena  dulu oleh bangsa Mesir dipakai sebagai alat meramal pada jaman itu. Sebenarnya banyak sekali teori yang mendasari bagaimana cara bekerja Tarot. Salah satunya yang paling sering disebut adalah dipercayai bahwa symbol-simbol tarot merupakan suatu hubungan tidak sadar antara manusia dan sesuatu yang tidak diketahui, dimana masing-masing kartu melambangkan satu aspek hubungan tersebut. Saat seseorang membalik kartu hubungan antara orang tersebut dan antar kartu menggambarkan kehidupan tentang masa lalu, kini dan nanti. Oleh Carl Jung seorang ahli psikoanalisa synchronicity inilah yang menjadi dasar wacana kartu Tarot. Synchronicity berarti “ suatu kebetulan yang berarti”  yaitu bertemunya peristiwa di luar dan di dalam kehidupan dimana masing-masing peristiwa tidak  terhubungkan begitu saja. “ Kebetulan yang berarti” ini terjadi ketika ada kebutuhan vital seseorang untuk mengetahui sesuatu. Misalnya hari ini saya “tanpa sengaja” memakai baju warna hitam , ternayta di kantor ada kerabat teman yang meninggal sehingga saya harus pergi melayat. Jadi saya ‘tidak sengaja’ memakai baju warna hitam terdorong kebutuhan vital saya untuk melayat. Menurut pemikiran para ahli psikoanalisa, di dalam peristiwa kebetulan itu membawa suatu pergantian keseimbangan energi cenayang, dengan demikian sebuah berkah dari aliran energi alam semesta terdorong masuk ke dalam kesadaran kita. Peristiwa Synchronistic ini sepertinya muncul ketika kita sangat membutuhkannya.

Sedang saya pribadi sangat amat percaya tentang teori energi tersebut. Terlebih , sebagai manusia Jawa tulen sejak kecil saya selalu diajarkan oleh satu konsep bernama “ Jagad Besar” dan “ Jagad Kecil”, atau bahasa kerennya Macrokosmos dan Microkosmos dimana kultur saya mengenal satu konsep bernama suwung (sebuah kosa kata bahasa Jawa yang sangat sulit dijelaskan dengan bahasa Indonesia. Mungkin kira-kira artinya begini : hampa, tidak ada ‘ rasa pribadi’ tapi berisi. Makna suwung berbeda dengan kosong. Karena suwung kurang lebih sebuah ‘medan ruang kosong’ ( zero point field) yang terjadi seperti sebuah bintang tua pecah menjadi debu kosmis, area sekitar pecahan itu menciptakan medan ruang kosong yang justru mempunyai daya hisap sedemikian dahsyat seperti sebuah vakum. Energi ‘hampa’nya justru punya kekuatan sangat luar biasa untuk menyedot semua materi di sekitarnya di alam raya ini. Nah, kejadian itu pun bisa terjadi di tubuh kita karena tubuh kita ini adalah semesta kecil. Sehingga tubuh yang ‘suwung’ atau oleh George Lucas diadaptasikan dalam sekuel Starwars menjadi “the Force” juga akan seperti zero point field di semesta raya, yaitu mampu menyedot semua hal yang sudah tercetak di semesta raya ini. Sehingga dalam proses pembacaan kartu Tarot, energi suwung saya menyedot  ‘data’ di semesta raya yang sudah ada dan terefleksikan melalui pilihan-pilihan kartu yang diambil oleh klien Tarot saya. Disitulah sebenarnya proses kecenayangan sedang berlangsung, proses dimana medan ruang kosong di dalam diri seseorang mempunyai  ‘kekuatan’ medan ruang kosong yang mampu menarik keakuratan data-data di semesta ini melalui kartu-kartu Tarot.

Sebenarnya baik synchronicity maupun zero point field merupakan suatu proses kecenayangan yang dihubungkan dengan alam semesta dimana keduanya sangat berhubungan dengan kepekaan kita terhadap getar energi alam semesta ini. Semua benda di dunia ini mengirimkan vibrasi dan semua saling terhubung. Maka jika seseorang mendalami baik yoga, meditasi, melakukan ritual-ritual keagamaan dst , sebenarnya orang tersebut sedang mengadakan koneksi kosmis dan memancarkan vibrasi ke jagad raya ini. Tanpa disadari maka orang itupun juga sedang membuat koneksi-koneksi semesta di dalam dirinya yang juga terhubung dengan alam semesta. Ketika semua vibrasi energi itu saling terhubung maka semuanya menjadi seperti “ meramal”.

Bagi saya pribadi, jika kartu saya seolah-olah mampu “meramal” masa depan , saya lebih mempercayai bahwa ‘medan ruang kosong’ untuk membaca data semesta yang saya miliki menerapkan teori Einstein bahwa waktu sebenarnya tidaklah linear, dimana dimensi ruang bukan lagi merupakan dimensi tiga dimensi dan dimensi waktu tidak lagi merupakan kesautan yang terpisah, tetapi mereka terhubung dalam continuum ruang dan waktu empat dimensi atau multidimensi dimana di dalamnya mungkin juga terdapat track untuk kesadaran manusia. Alam Semesta sudah merupakan satu dinamika yang bagian-bagiannya saling terhubung satu sama lain. Jadi suatu pengalaman supranatural termasuk melalui kartu Tarot bisa berupa sesuatu yang pernah terjadi,sesuatu yang tejadi disini dan sekarang atau di masa depan, atau sesuatu yang hanya merupakan kemungkinan. Gampangnya seperti  komik Arad dan Maya di sebuah  majalah remaja waktu saya kecil dulu ( haiyaaa..tuanya saya), tarot ataupun ‘kecenayangan’ lebih merupakan sebuah ‘teleport’ yang bisa membawa kita seolah-olah melintas waktu padahal sebenarnya waktu itu tidak linear.

Jadi, daripada disebut meramal saya sangat lebih suka jika tarot saya lebih untuk membantu bagaimana memetakan energi  untuk satu arah pengembangan diri yang lebih baik. Dimana tarot lebih berfungsi sebagai alat ‘menyembuhkan’ luka-luka jiwa dan membaca pergerakan energi orang agar menjadi manusia yang ‘penuh’ dan menemukan pathnya sehingga terwujudlah kebahagiaan sejati. Lain kali jika Anda datang ke Rumah saya di Ubud saya sangat lebih bahagia jika Anda bertanya “ Apakah saya bisa dibantu bagaimana energi saya  menemukan arah jiwa saya ?”.  Namastee

Ubud, 15 Maret 2009

 

Leave a Reply